
Di sebuah sudut sederhana di wilayah Karangpawitan, semangat menjaga cahaya Al-Qur’an terus menyala meski diterpa berbagai keterbatasan. Rumah Qur’an Mafaathul Jaariyah setiap harinya menjadi tempat belajar bagi sekitar 50 santri usia SD hingga SMP yang datang dengan penuh semangat untuk mengaji. Di tempat inilah, lima orang guru ngaji dengan penuh kesabaran mengabdikan waktunya demi menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada generasi muda.
Namun perjuangan mereka tidaklah mudah. Selama kurang lebih delapan bulan terakhir, Rumah Qur’an tersebut mengalami kesulitan besar akibat tidak berfungsinya sumur air bersih. Kondisi itu membuat aktivitas belajar mengajar menjadi sangat terbatas. Para santri harus berhemat air untuk berwudhu, sementara para pengajar tetap bertahan dalam keadaan serba kekurangan. Meski demikian, keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat mereka. Di tengah bangunan sederhana dan fasilitas yang minim, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap terdengar setiap hari—seolah menjadi bukti bahwa perjuangan menjaga agama tak pernah bergantung pada kemewahan.
Lima guru ngaji yang digawangi oleh Ustadzah Silmi Nur Sukma terus menguatkan langkah. Dengan ketulusan luar biasa, mereka tetap hadir mendampingi para santri, meski harus menghadapi kondisi yang berat. Tidak jarang para guru harus menahan lelah, mengorbankan waktu pribadi, bahkan mengesampingkan kebutuhan mereka sendiri demi memastikan anak-anak tetap bisa belajar membaca Al-Qur’an. Bagi mereka, melihat para santri mampu melafalkan ayat demi ayat dengan baik adalah kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada segala kesulitan yang dihadapi.
Dalam agenda Ekspedisi Al-Qur’an, Tim Ruang Baik hadir membawa kabar bahagia bagi Rumah Qur’an Mafaathul Jaariyah. Selain memberikan bantuan pembangunan sumur sebagai solusi atas krisis air bersih yang selama ini dihadapi, Tim Ruang Baik juga memberikan hadiah khusus kepada para guru ngaji. Momen itu berlangsung penuh haru. Mata para pengajar tampak berbinar dan tak mampu menyembunyikan rasa kaget serta syukur atas perhatian yang diberikan. Hadiah sederhana tersebut menjadi penguat hati bahwa perjuangan mereka selama ini tidak berjalan sendiri.
Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."
(QS. Al-Hajj: 32)
Apa yang dilakukan para guru ngaji di Karangpawitan adalah potret nyata pengabdian tanpa pamrih—mereka yang tetap berdiri menjaga cahaya Al-Qur’an meski berada di tengah keterbatasan. Semoga setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran yang ditunaikan, dan setiap langkah perjuangan mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.







