
Di tengah agenda penyaluran *10.000 Al-Qur'an dan 5.000 Iqra* di Bengkulu Selatan, ada satu pertemuan sederhana yang justru meninggalkan kesan paling mendalam. Sambil menunggu suaminya menjemput, seorang guru ngaji bernama *Ustadzah Asfa* berbincang hangat bersama tim Ruang Baik. Dari obrolan singkat itulah terungkap sebuah kisah perjuangan yang mungkin juga sedang dialami ribuan guru ngaji lainnya di pelosok negeri.
Dengan mata yang berbinar, Ustadzah Asfa mengaku sangat bahagia ketika pertama kali mendengar kabar bahwa akan ada pembagian Al-Qur'an dan Iqra secara gratis. Tanpa ragu, ia langsung mendaftarkan diri. Sementara sebagian rekannya memilih diam karena menganggap informasi itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Ada yang takut tertipu, ada pula yang mengira hanya sekadar kabar yang tidak akan pernah terwujud.
Takdir berkata lain. Hari itu, Ustadzah Asfa benar-benar pulang membawa amanah yang selama ini ia impikan. Bukan hanya mushaf Al-Qur'an dan Iqra, tetapi juga harapan baru bahwa perjuangannya selama ini tidak pernah luput dari perhatian Allah.
Di balik senyumnya, tersimpan kisah tentang seorang ibu dengan tiga orang anak—dua di antaranya adalah anak kembar. Setiap pagi ia bekerja sebagai staf di sebuah sekolah. Namun ketika sore tiba dan sebagian orang memilih beristirahat, ia kembali melanjutkan pengabdiannya. Dengan penuh kesabaran, ia mengajarkan huruf demi huruf, ayat demi ayat Al-Qur'an kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
Perjalanan membangun tempat mengaji tentu tidak mudah. Demi menjaga operasional sederhana seperti membayar listrik dan kebutuhan belajar, ia hanya menetapkan iuran *Rp25.000 per anak setiap bulan*. Nominal yang sangat kecil. Namun, jumlah santri yang datang ternyata tidak sebanyak yang diharapkan.
Akhirnya kebijakan itu diubah. Bukan lagi Rp25.000 per anak, melainkan *Rp25.000 untuk satu keluarga*, meski ada yang menitipkan dua, tiga, bahkan empat anak sekaligus. Harapannya sederhana, agar tak ada lagi orang tua yang merasa keberatan mengirimkan anak-anak mereka belajar Al-Qur'an.
Namun perjuangan belum berhenti di sana. Ketika waktu pembayaran tiba, sering kali ia harus menerima berbagai alasan. Ada yang meminta ditunda, ada yang lupa, bahkan ada yang tidak pernah melunasi sama sekali. Meski demikian, Ustadzah Asfa memilih tetap membuka pintu tempat mengajinya. Baginya, jangan sampai ada satu anak pun kehilangan kesempatan belajar Al-Qur'an hanya karena keterbatasan biaya.
Ia juga memiliki mimpi sederhana: mengajak para santrinya berbuka puasa sunnah bersama sebagai bagian dari pendidikan akhlak dan pembiasaan ibadah. Sayangnya, membeli bahan makanan untuk sekadar menyediakan hidangan berbuka pun sering kali terasa begitu berat. Di titik-titik seperti itulah ia hanya mampu mengangkat kedua tangan, memohon kepada Allah agar dimudahkan setiap langkah perjuangannya.
Dan Allah benar-benar menjawab doa itu dengan cara yang tak pernah ia sangka. Di sela-sela acara penyaluran Al-Qur'an, Ruang Baik dipertemukan dengan Ustadzah Asfa. Hari itu ia menerima bantuan Al-Qur'an, dukungan kafalah untuk keberlangsungan kegiatan mengajinya, serta bantuan program berbuka puasa bagi para santrinya. Bukan sekadar bantuan, tetapi juga penguat bahwa perjuangan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.
Kisah Ustadzah Asfa hanyalah satu dari sekian banyak cerita para guru ngaji di pelosok Indonesia. Mereka tidak mengejar popularitas, tidak berharap pujian, dan sering kali mengajar tanpa kepastian penghasilan. Namun dari tangan-tangan merekalah lahir anak-anak yang mengenal huruf hijaiyah, mampu membaca Al-Qur'an, bahkan kelak menjadi generasi yang menjaga Kalamullah.
Masih ada begitu banyak guru ngaji seperti Ustadzah Asfa yang terus berjuang dalam diam. Mereka tidak meminta banyak, hanya berharap ada yang berjalan bersama mereka. Sebab ketika seorang guru ngaji dikuatkan, sesungguhnya yang sedang kita kuatkan adalah masa depan generasi Qurani. Semoga semakin banyak tangan-tangan kebaikan yang hadir, agar perjuangan mereka tidak lagi berjalan sendirian.




