
Aktivitas masyarakat di kawasan Parung, Bogor, dan Bojongsari, Depok, tetap berjalan seperti biasa pada Selasa (6/10/2026). Pengemudi ojek online berlalu-lalang mengantar pesanan, pemulung menyusuri jalan mencari barang yang masih memiliki nilai jual, sementara pedagang kecil tetap menanti pembeli meski belum tentu dagangannya habis terjual. Di tengah aktivitas tersebut, ada keluarga-keluarga yang setiap hari terus berjuang agar kebutuhan rumah dapat terpenuhi.
Melihat perjuangan tersebut, Tim Ruang Baik kembali hadir menyapa dan berbagi bersama para pejuang keluarga melalui Gerakan Sedekah Beras (GSB). Sebanyak 20 karung beras, 10 paket gula, dan 10 liter minyak disalurkan kepada masyarakat yang ditemui di sekitar Depok dan Bogor. Bantuan diberikan kepada pengemudi ojek online, pemulung, pedagang kecil, serta masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang mengandalkan penghasilan harian atau tidak tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi mereka yang bekerja dengan penghasilan harian, setiap hari adalah perjuangan yang tidak selalu bisa dipastikan hasilnya. Ada hari ketika orderan cukup ramai, dagangan terjual, atau barang yang dikumpulkan memiliki nilai yang lumayan. Namun ada pula hari ketika penghasilan yang dibawa pulang jauh dari harapan. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan pokok seperti beras tetap harus tersedia untuk keluarga.
Salah satu momen yang menyentuh terjadi ketika tim bertemu dengan seorang pemulung. Setelah menerima bantuan, ia bercerita tentang kondisi keluarganya, termasuk tentang anaknya. Perbincangan sederhana tersebut membuatnya tidak kuasa menahan tangis. Dari sana, tim kembali melihat bahwa di balik pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, ada tanggung jawab besar yang sedang dijalankan untuk orang-orang yang dicintai.
Kisah serupa datang dari seorang ibu yang sehari-hari berjualan cireng. Saat tim datang, dagangannya terlihat cukup sepi. Ia bercerita bahwa hari itu dirinya terus berdoa agar ada rezeki yang datang. Ketika menerima bantuan beras, ia mengungkapkan rasa syukurnya karena persediaan beras di rumah memang sudah habis. “Alhamdulillah, senang banget. Di rumah sudah habis beras, saya punya anak empat,” tuturnya.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa kebutuhan pangan bagi sebuah keluarga terkadang sangat bergantung pada penghasilan yang diperoleh hari itu. Sekarung beras yang mungkin terlihat sederhana, bagi keluarga lain bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Ada kebutuhan yang tertunda, ada penghasilan yang belum pasti, dan ada anak-anak yang tetap harus makan di rumah.
Bagi Ruang Baik, para pemulung, pengemudi ojek online, pedagang kecil, dan pekerja lainnya bukan sekadar orang-orang yang ditemui di jalan. Mereka adalah para pencari nafkah yang setiap hari menjalankan tanggung jawab untuk keluarganya. Mereka terus bekerja, menunggu orderan, mendorong gerobak, mencari barang rongsokan, atau berjualan dari pagi hingga sore, dengan harapan ada cukup rezeki yang bisa dibawa pulang.
Melalui Gerakan Sedekah Beras, Ruang Baik ingin terus hadir di tengah perjuangan tersebut. Bukan untuk menghapus seluruh kesulitan yang mereka hadapi, tetapi untuk memberikan sedikit ruang bernapas dan menunjukkan bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendirian. Setiap bantuan yang diberikan adalah bagian dari kepedulian, dan setiap kebaikan yang dititipkan donatur menjadi penguat bagi keluarga yang sedang berjuang.
Karena pada akhirnya, sek arung beras bukan hanya tentang apa yang sampai di meja makan. Di dalamnya ada doa, kepedulian, dan harapan agar sebuah keluarga dapat melewati hari dengan sedikit lebih tenang. Mari teruskan kebaikan bersama Ruang Baik, agar semakin banyak keluarga yang merasakan bahwa masih ada yang peduli dengan perjuangan mereka.





