
Dalam beberapa hari terakhir, langkah tim Ruang Baik kembali menyusuri jalan-jalan menuju pesantren. Dari pelosok Lebak, Banten, hingga Curug, Legok, Kabupaten Tangerang, dan sejumlah wilayah lainnya, tim hadir membawa amanah kebaikan. Al-Qur’an disalurkan untuk menemani para santri belajar dan mengaji, beras diberikan untuk membantu kebutuhan pangan pondok, namun perjalanan kali ini juga memiliki misi lain: mencari dan menemui anak-anak yatim yang sedang menuntut ilmu di pesantren. Karena di balik kehidupan mereka sebagai santri, ada perjuangan yang terkadang tidak terlihat oleh banyak mata.
Sebanyak 20 santri yatim mendapatkan dukungan berupa uang saku untuk membantu kebutuhan sehari-hari mereka. Nilainya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang begitu banyak, tetapi bagi seorang santri yang harus belajar jauh dari keluarga, memiliki sedikit pegangan untuk membeli kebutuhan pribadi dapat menjadi kebahagiaan tersendiri. Ruang Baik percaya, membahagiakan anak yatim bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada mereka, tetapi tentang menghadirkan pesan sederhana: “Kamu tidak sendirian. Ada yang peduli dengan perjuanganmu.”
Di antara puluhan santri yang ditemui, ada satu kisah yang membuat tim Ruang Baik terdiam sejenak. Seorang santri usia SMA merupakan salah satu dari tujuh bersaudara. Ketika adik-adiknya masih membutuhkan sosok ayah untuk menjadi tempat bersandar, sang ayah justru telah pergi meninggalkan keluarga. Sang ibu yang sebelumnya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga kini harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia harus berjibaku memenuhi kebutuhan anak-anaknya, sementara salah satu anaknya memilih tetap bertahan di pesantren, mengejar ilmu dan menjaga harapan masa depannya.
Ada pula kisah seorang santri yang terus berusaha melanjutkan cita-cita ayahnya. Sang ayah memiliki harapan sederhana sekaligus mulia: ingin melihat anaknya tumbuh menjadi seorang yang berilmu dan menjadi lulusan pesantren. Qadarullah, ketika keadaan keluarga tidak lagi memungkinkan untuk membiayai pendidikan, justru pesantren yang dikunjungi memberikan kesempatan kepadanya untuk mondok tanpa biaya. Bagi Ruang Baik, kisah ini menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah bisa datang melalui jalan yang tidak pernah disangka. Ketika satu pintu terasa tertutup, bisa saja Allah bukakan pintu lain melalui tangan orang-orang yang dipilih-Nya.
Mungkin mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin belajar, mengaji, menghafal Al-Qur’an, dan suatu hari pulang membawa kabar bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Tetapi menjadi yatim sekaligus santri bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada rindu kepada keluarga yang harus dipendam, ada kebutuhan yang harus dicukupkan, ada keinginan yang harus ditahan, dan ada cita-cita yang tetap harus dijaga meski keadaan tidak selalu berpihak. Karena itu, sedikit perhatian yang kita berikan hari ini bisa menjadi penyemangat besar bagi mereka untuk terus melangkah.
Masih banyak anak-anak yatim yang sedang menuntut ilmu dan membutuhkan uluran tangan kita. Mari terus menjadi bagian dari perjalanan mereka bersama Ruang Baik. Bantu hadirkan senyum untuk para santri yatim, bantu penuhi kebutuhan sederhana mereka, dan kuatkan langkah mereka agar tetap teguh mengejar cita-cita. Sebab bisa jadi, uang saku yang kita berikan hari ini menjadi bekal kecil yang membuat seorang santri bertahan esok hari. Dan bisa jadi, senyum yang kita hadirkan hari ini menjadi bagian dari doa yang kelak kembali kepada kita dalam bentuk kebaikan yang jauh lebih besar. Semoga setiap dukungan untuk mereka menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi jalan hadirnya generasi penghafal Al-Qur’an yang kelak membawa manfaat bagi banyak orang.
Dokumentasi lainnya :






