
Lampung – Bengkulu, 26 –31 Juli 2026 — Ada perjalanan yang diukur dari panjangnya kilometer yang ditempuh. Namun, ada pula perjalanan yang diukur dari banyaknya harapan yang berhasil dihidupkan. Itulah yang tergambar dalam Ekspedisi Kemerdekaan Al-Qur'an 2026 yang diinisiasi oleh Ruang Baik bersama para mitra kebaikan. Selama enam hari, tim ekspedisi melintasi ratusan kilometer dari Provinsi Lampung hingga Bengkulu, membawa lebih dari sekadar mushaf Al-Qur'an dan buku Iqra. Mereka membawa kepedulian, semangat, dan keyakinan bahwa setiap anak bangsa berhak merasakan kemudahan belajar Al-Qur'an.
Perjalanan dimulai dari Kabupaten Pringsewu, Lampung Selatan, Bandar lampung, dengan mengunjungi pondok pesantren, rumah tahfidz, majelis taklim, hingga pelosok desa yang selama ini masih mengalami keterbatasan sarana pembelajaran Al-Qur'an. Di setiap titik, mushaf Al-Qur'an dan buku Iqra serta Beras dan Beasiswa diserahkan kepada para santri, guru ngaji, dan masyarakat. Senyum bahagia para penerima menjadi bukti bahwa sebuah mushaf bukan sekadar buku, melainkan jembatan yang menghubungkan seseorang dengan firman Allah dan membuka jalan lahirnya generasi pecinta Al-Qur'an.
Ekspedisi kemudian menghadirkan momentum bersejarah melalui penyerahan simbolis 5.000 mushaf Al-Qur'an dan buku Iqra kepada Pemerintah Kabupaten Pringsewu. Dukungan pemerintah daerah menjadi penanda bahwa membangun peradaban Al-Qur'an bukan hanya tanggung jawab lembaga dakwah, tetapi merupakan ikhtiar bersama seluruh elemen bangsa. Kolaborasi ini memperkuat harapan agar distribusi Al-Qur'an mampu menjangkau lebih banyak masjid, musala, TPQ, dan lembaga pendidikan Islam yang masih membutuhkan.
Memasuki hari kedua, perjalanan memperlihatkan wajah lain dari perjuangan dakwah. Tim bertemu dengan komunitas pembina lansia yang dengan penuh kesabaran mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an kepada para orang tua yang baru belajar membaca di usia senja. Semangat para lansia yang tidak pernah malu belajar menjadi pengingat bahwa mencari ilmu tidak mengenal batas usia. Pada hari yang sama, ribuan mushaf Al-Qur'an, ratusan buku Iqra, bantuan beras, serta berbagai dukungan lainnya kembali disalurkan kepada pondok pesantren, guru ngaji, dan masyarakat yang membutuhkan di berbagai wilayah Lampung.
Ekspedisi ini tidak hanya berbicara tentang distribusi kitab suci. Kepedulian juga diwujudkan melalui pembangunan sumur untuk Masjid Al-Ikhlas yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses air bersih. Bagi masyarakat sekitar, hadirnya sumur bukan sekadar menghadirkan air, tetapi juga memudahkan jamaah berwudu, menunjang aktivitas ibadah, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di saat yang sama, sebanyak 645 kilogram beras disalurkan kepada pondok pesantren, para santri, guru ngaji, mahasiswa pengabdi, serta masyarakat penerima manfaat. Bantuan tersebut menjadi penguat kebutuhan dasar para penjaga Al-Qur'an agar mereka dapat terus mengajar dan menghafal tanpa dibayangi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Di sepanjang perjalanan, tim juga menyaksikan secara langsung kisah-kisah luar biasa dari para guru ngaji yang bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk mendidik umat. Ada yang tetap membuka kelas setiap hari meski hampir tidak pernah menerima bayaran, ada yang mengajar puluhan santri di bangunan sederhana, dan ada pula yang tetap bertahan menghidupkan majelis Al-Qur'an dengan segala keterbatasan. Mereka tidak pernah meminta banyak, hanya berharap anak-anak di kampungnya mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Kisah-kisah inilah yang menjadi ruh dari seluruh rangkaian ekspedisi, bahwa sesungguhnya para guru ngaji adalah penjaga peradaban yang sering kali bekerja tanpa sorotan.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Bengkulu dengan menempuh belasan jam perjalanan darat melintasi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan. Jalan yang berkelok, tanjakan panjang, dan medan yang tidak ringan tidak menyurutkan semangat tim untuk mengantarkan amanah para donatur. Setiap kilometer yang dilalui menjadi saksi bahwa menghadirkan cahaya Al-Qur'an ke pelosok negeri membutuhkan kesungguhan, kerja sama, dan pengorbanan.
Puncak ekspedisi berlangsung di Kabupaten Bengkulu Selatan melalui penyerahan simbolis 10.000 mushaf Al-Qur'an dan 5.000 buku Iqra bersama pemerintah daerah. Momen tersebut menjadi tonggak penting bagi gerakan berbagi Al-Qur'an karena membuka harapan baru bagi ribuan guru ngaji, santri, TPQ, masjid, dan masyarakat yang selama ini masih kekurangan mushaf layak pakai. Bagi banyak guru ngaji, bantuan ini bukan sekadar tambahan fasilitas belajar, melainkan jawaban atas doa yang selama bertahun-tahun mereka panjatkan agar setiap murid dapat belajar menggunakan Al-Qur'an yang baik dan layak.
Ekspedisi Kemerdekaan Al-Qur'an 2026 akhirnya membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar, tetapi dari kepedulian yang dilakukan secara bersama-sama. Mushaf Al-Qur'an, buku Iqra, air bersih, bantuan pangan, serta perhatian kepada para guru ngaji menjadi satu rangkaian ikhtiar untuk menguatkan pendidikan Al-Qur'an di Indonesia. Perjalanan ini mungkin telah usai, tetapi perjuangan menjaga cahaya Al-Qur'an masih terus berlanjut di tangan ribuan guru ngaji, santri, relawan, dan para dermawan yang percaya bahwa setiap huruf Al-Qur'an yang dipelajari akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.
Karena sejatinya, Ekspedisi Kemerdekaan Al-Qur'an bukan hanya tentang mengantarkan bantuan ke berbagai daerah. Ekspedisi ini adalah perjalanan menyambung harapan, menguatkan para penjaga Kalamullah, dan memastikan bahwa cahaya Al-Qur'an terus bersinar hingga ke pelosok negeri, menjangkau mereka yang selama ini menunggu uluran tangan untuk terus belajar, mengajar, dan mencintai Al-Qur'an.










