
Malam keempat perjalanan, tim Ruang Baik tiba di Pangandaran dengan satu niat sederhana: mendengar lebih dekat denyut kehidupan masyarakat pesisir. Di sana, tim bertemu dengan salah satu tokoh masyarakat setempat, Bapak Tono seorang nelayan sekaligus ketua lingkungan yang selama ini menjadi tempat bersandar keluh kesah warganya. Dengan wajah yang menyimpan banyak cerita, beliau menyampaikan bagaimana hari-hari nelayan belakangan ini dipenuhi kegelisahan dan perjuangan yang tak ringan.
Di tengah semilir angin laut malam itu, Bapak Tono berkisah tentang para nelayan yang tetap berangkat melaut sebelum fajar menyingsing, menantang ombak, dinginnya angin, dan luasnya samudera—namun sering kali pulang dengan hasil yang jauh dari harapan. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan, seakan sedang menguji kesabaran mereka. Meski demikian, para nelayan tetap menatap esok dengan ikhtiar dan doa yang tak pernah putus.
Beliau pun meminta tim Ruang Baik untuk datang langsung ke dermaga keesokan harinya, agar bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan para pejuang laut itu. Pagi harinya, tim menyusuri pesisir, menyapa wajah-wajah yang legam terbakar matahari, tangan-tangan kasar yang ditempa kerasnya kehidupan, namun tetap menyimpan semangat untuk menghidupi keluarga di rumah.
Di sana, tim berbincang langsung dengan para nelayan. Satu per satu mereka menceritakan pahitnya keadaan beberapa bulan terakhir. Hasil tangkapan yang semakin sedikit membuat penghasilan mereka nyaris tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan suara lirih namun penuh ketegaran, salah seorang nelayan yang sejak kecil menggantungkan hidup dari laut berkata, “Unggal dinten ngan meunang 20 rebu, teu cukup keur buruhan…” Kalimat sederhana itu terasa menghantam hati—sebuah potret getir tentang perjuangan yang sering luput dari perhatian.
Namun di balik keterbatasan itu, para nelayan tetap memilih bertahan. Mereka tetap melaut, tetap menebar jala, tetap berharap pada rezeki Allah yang kadang datang lewat jalan tak terduga. Ada heroisme yang sunyi dalam perjuangan mereka—tentang lelaki-lelaki tangguh yang bertaruh nyawa di lautan demi sepiring nasi di meja makan keluarganya.
Melihat langsung kenyataan itu, hati tim Ruang Baik tergerak. Sebagai bentuk kepedulian dan ikhtiar meringankan beban, tim menyalurkan bantuan beras kepada seluruh nelayan yang berada di lokasi tersebut. Mungkin tak seberapa dibanding beratnya ujian yang mereka hadapi, namun semoga menjadi pesan bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa di tengah luasnya samudera dan kerasnya hidup, selalu ada tangan-tangan kebaikan yang hadir, membersamai perjuangan para penjaga laut, para pahlawan sunyi di tepian negeri.




