
Bagi Reifaldi, meraih gelar sarjana bukan sekadar menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Di balik perjuangannya selama tujuh semester, tersimpan harapan besar untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan membangun masa depan yang lebih baik. Setelah melewati proses perkuliahan hingga sidang akhir, ia tinggal selangkah lagi menuju wisuda. Namun, di penghujung perjalanan tersebut, Reifaldi dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah: biaya wisuda yang belum mampu ia penuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Selama tujuh semester, Reifaldi menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi swasta dengan dukungan beasiswa dari pihak swasta. Kesempatan itu menjadi jalan baginya untuk menggapai cita-cita yang ingin diwujudkan. Ia berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh hingga berhasil menyelesaikan tahapan akademiknya dalam tujuh semester. Bagi Reifaldi, beasiswa bukan hanya bantuan untuk mengenyam pendidikan, tetapi juga kesempatan berharga yang ingin ia manfaatkan sebaik mungkin.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Reifaldi juga bekerja sebagai pengemudi ojek online. Pekerjaan itu dijalaninya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari uang makan hingga berbagai keperluan selama kuliah. Penghasilan yang diperoleh tidak sepenuhnya digunakan untuk dirinya sendiri. Sebagian harus dialokasikan untuk kebutuhan kendaraan, membantu pengeluaran rumah tangga, serta ikut membayar biaya asrama adiknya yang juga sedang menempuh pendidikan. Di tengah tanggung jawab tersebut, Reifaldi terus berusaha mandiri sekaligus meringankan beban kedua orang tuanya.
Perjuangan mencari nafkah juga dijalani oleh sang ayah yang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun, belakangan motor yang menjadi sumber penghasilannya kerap mengalami kerusakan dan harus berulang kali dibawa ke bengkel. Bahkan, selama sepekan, kendaraan tersebut tidak dapat digunakan untuk bekerja. Ketika motor tak bisa beroperasi, kesempatan sang ayah untuk mendapatkan penghasilan pun ikut terhenti. Sementara itu, sang ibu bekerja di konveksi milik tetangga. Penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi belum cukup untuk menanggung pengeluaran besar yang harus dihadapi.
Di tengah kondisi tersebut, Reifaldi berusaha mencari jalan keluar agar biaya wisuda tidak menambah beban orang tuanya. Ia memahami bahwa ayah dan ibunya telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, ia berupaya mencari solusi tanpa harus membuat orang tuanya kembali berutang. Salah satu langkah yang telah ditempuhnya adalah mengajukan permohonan pembayaran secara mencicil kepada bagian keuangan kampus. Ia berharap ada keringanan yang memungkinkan dirinya menuntaskan proses pendidikan hingga wisuda.
Bagi Reifaldi, menyelesaikan studi ternyata belum sepenuhnya mengakhiri perjuangan. Setelah melewati berbagai proses akademik, ia masih harus menghadapi biaya wisuda yang terasa besar dibandingkan kemampuan keuangan keluarga. Di satu sisi, ia ingin segera menuntaskan perjalanan pendidikannya. Di sisi lain, ia memahami kondisi kedua orang tuanya yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginannya untuk mengikuti wisuda pun berjalan beriringan dengan upaya mencari jalan keluar agar tidak menambah beban keluarga.
Melihat perjuangan tersebut, Ruang Baik hadir memberikan dukungan agar Reifaldi dapat menuntaskan tahap akhir pendidikannya. Ruang Baik membantu membayarkan biaya wisuda yang menjadi kendala bagi Reifaldi dan keluarganya. Bantuan ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya setelah berusaha menyelesaikan kuliah, bekerja untuk memenuhi kebutuhan, serta turut membantu keluarga di tengah keterbatasan ekonomi. Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan Reifaldi dapat melangkah menuju wisuda tanpa harus terus dibayangi persoalan biaya yang selama ini menghambatnya.
Selain membantu biaya wisuda, Ruang Baik juga menyalurkan paket sembako berupa beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya untuk Reifaldi dan keluarganya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan pengeluaran rumah tangga, terutama ketika penghasilan sang ayah terganggu akibat kendaraan yang harus menjalani perbaikan. Bagi Ruang Baik, kepedulian tidak hanya tentang membantu seseorang mencapai tujuan pendidikan, tetapi juga hadir untuk menguatkan keluarga yang selama ini ikut berjuang di baliknya. Sebab, perjalanan seorang anak menuju cita-cita tidak pernah benar-benar terpisah dari pengorbanan orang tua.
Ruang Baik percaya bahwa anak muda yang berusaha meraih cita-cita di tengah keterbatasan layak mendapatkan kesempatan dan dukungan. Kisah Reifaldi menunjukkan bahwa semangat untuk maju tetap tumbuh meski dihadapkan pada persoalan ekonomi. Ia tidak hanya berjuang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga bekerja di jalanan demi memenuhi kebutuhan dan membantu keluarganya. Dukungan yang diberikan diharapkan dapat menjadi penguat bagi Reifaldi untuk melanjutkan langkahnya menuju masa depan yang lebih baik, sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian bersama dapat membantu seseorang melewati masa sulit.
Perjalanan Reifaldi menjadi pengingat bahwa perjuangan pendidikan tidak selalu selesai ketika ujian terakhir telah dilewati. Ada mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah, ada orang tua yang mengerahkan tenaga demi pendidikan anaknya, dan ada pula tantangan biaya yang muncul ketika kelulusan sudah di depan mata. Kini, melalui bantuan biaya wisuda dari Ruang Baik, Reifaldi mendapatkan dukungan untuk menuntaskan salah satu tahap penting dalam perjalanannya. Di balik gelar yang ingin diraihnya, ada mimpi seorang anak, doa kedua orang tua, dan pengorbanan keluarga yang terus mengiringi langkahnya menuju masa depan.









