19 Agustus 2026 10:58 am

Meninggalkan Nyaman, Memilih Berkhidmat: Kisah Ustadz Rusdi Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Pelosok Cianjur Selatan

Meninggalkan Nyaman, Memilih Berkhidmat: Kisah Ustadz Rusdi Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Pelosok Cianjur Selatan
Di tengah kehidupan yang semakin menawarkan kenyamanan, ada orang-orang yang justru memilih jalan sebaliknya. Ketika banyak orang berusaha mendekatkan diri dengan fasilitas dan kehidupan yang lebih mudah, *Ustadz Rusdi, putra asli Garut, justru memilih berkhidmat di pelosok Cianjur Selatan*. Ia meninggalkan kenyamanan hidup bersama keluarga di Garut untuk mendedikasikan waktu dan tenaganya kepada umat. Hari-harinya diisi dengan mengajar ngaji, membina masyarakat, sekaligus memotivasi anak-anak muda dan orang tua agar semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Pengabdian itu bukan dilakukan di satu tempat. Dalam satu pekan, Ustadz Rusdi mengajar di *sembilan titik kelompok pengajian dan majelis taklim* yang berbeda. Jarak antarlokasi cukup jauh dan membutuhkan waktu perjalanan yang tidak sedikit. Namun, ia tetap menyusuri jalan-jalan pelosok menggunakan kendaraan roda dua miliknya. Tidak ada kendaraan khusus, tidak ada fasilitas mewah, dan tidak ada perjalanan yang selalu mudah. Yang ada hanyalah motor sederhana, Al-Qur’an, dan tekad untuk terus menyapa masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya.

Perjuangan Ustadz Rusdi semakin menginspirasi karena ia bukan hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga berusaha menyalakan kembali semangat masyarakat untuk belajar. Ia bercerita kepada tim bahwa di pelosok Cianjur Selatan masih banyak orang dewasa bahkan lanjut usia yang belum mampu membaca Iqra, terlebih Al-Qur’an. Kenyataan tersebut justru menjadi bahan bakar perjuangannya. Baginya, selama masih ada orang yang ingin belajar dan masih ada masyarakat yang membutuhkan bimbingan, maka perjalanan untuk mengajarkan Al-Qur’an tidak boleh berhenti.

Tentu jalan dakwah yang ditempuhnya tidak selalu mulus. Di tengah masyarakat, masih ditemukan berbagai keyakinan terhadap perdukunan, hal-hal mistis, dan pemahaman yang membutuhkan pendampingan secara perlahan. Di sinilah perjuangan Ustadz Rusdi menemukan maknanya. Ia tidak datang untuk menghakimi, tetapi hadir untuk mendampingi, mengajarkan, dan mengenalkan masyarakat kepada nilai-nilai Al-Qur’an. Dengan kesabaran dan pendekatan yang terus dibangun, ia berusaha menghadirkan cahaya Islam di tengah masyarakat yang masih membutuhkan banyak pendampingan.

Menariknya, pengabdian Ustadz Rusdi juga tidak membuatnya hanya menunggu jadwal mengajar. Ia memiliki keinginan untuk *beternak ayam dan bebek* sebagai kegiatan produktif untuk mengisi waktu luangnya. Ikhtiar tersebut menjadi gambaran bahwa perjuangan seorang guru ngaji bukan hanya tentang mengajar di hadapan jamaah, tetapi juga bagaimana mampu bertahan dan membangun kemandirian dalam menjalani kehidupan. Ia ingin waktunya tetap produktif sembari menunggu jadwal berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya.

Di balik perjuangan tersebut, Ustadz Rusdi juga memiliki kebahagiaan tersendiri sebagai seorang ayah. Salah satu anaknya telah menjadi *hafidzah Al-Qur’an*. Sebuah capaian yang tentu menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa kecintaan kepada Al-Qur’an tidak hanya ia ajarkan kepada masyarakat, tetapi juga ia tanamkan di dalam keluarganya. Apa yang ia perjuangkan di pelosok Cianjur Selatan seakan menjadi kelanjutan dari nilai yang telah ia bangun di rumah: mencintai Al-Qur’an, mengajarkannya, dan menjadikannya sebagai jalan pengabdian.

Kisah Ustadz Rusdi menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga cahaya Al-Qur’an tidak selalu dilakukan dari tempat yang nyaman. Kadang ia hadir dari atas motor yang menyusuri jalan jauh, dari majelis kecil, dari kobong sederhana, dan dari seorang guru ngaji yang memilih meninggalkan kenyamanan demi mengabdi kepada umat. *Sembilan titik pengajian dalam sepekan, jarak yang jauh, medan yang tidak mudah, dan keterbatasan fasilitas tidak membuat langkahnya berhenti.* Ia terus berjalan karena masih banyak masyarakat yang menunggu seseorang untuk mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an.

Barangkali, bagi sebagian orang, memilih hidup nyaman bersama keluarga adalah sebuah pencapaian. Namun bagi Ustadz Rusdi, ada kebahagiaan lain yang ia pilih: melihat seorang bapak yang sebelumnya tidak bisa membaca Iqra mulai mengenal huruf hijaiyah, melihat anak-anak muda kembali dekat dengan masjid, dan menyaksikan masyarakat perlahan mengenal Al-Qur’an. *Ia tidak sedang sekadar mengajar mengaji. Ia sedang menanam cahaya di tempat yang mungkin belum banyak tersentuh.* Dan selama masih ada satu orang yang ingin belajar Al-Qur’an di pelosok Cianjur Selatan, ia memilih untuk terus datang, mengajar, dan berkhidmat.

Dokumentasi lainnya :
-

-

-

-

Blog Post Lainnya
-
Kontak Kami
info@ruangbaik.com
Perumahan Arco, Jl. Rambutan No 16 Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari Kota Depok, Jawa Barat 16518
0851-1124-6776
0851-1122-6776
0813-8407-0649
Ikuti Kami di
-
@2026 Yayasan Ruang Baik Bersama Inc.