
Fajar Kamis pagi, 13 Agustus, meletus di ufuk timur saat tiga relawan kebaikan Ruang Baik bersama relawan lokal membulatkan ikrar baja. Di atas kendaraan logistik yang sarat akan beban, ribuan naskah kitab suci siap diarak menembus kebuasan rute Cianjur Selatan. Misi mereka teramat agung: menyapu kegelapan dan membebaskan jiwa-jiwa di pelosok negeri dari belenggu buta huruf Al-Qur'an di empat pondok pesantren sekaligus.
Namun, bumi Cianjur menuntut mahar perjuangan yang teramat mahal. Perjalanan menuju lokasi pertama menjelma menjadi neraka medan yang menguji nyawa. Jalanan hancur bergelombang, ceruk-ceruk terjal, hingga tanjakan pencakar langit berkali-kali melumpuhkan roda besi mereka. Hingga di satu tanjakan raksasa yang berdiri membatu, mobil logistik akhirnya menyerah—mesinnya meraung pasrah di hadapan gravitasi yang melumat daya.
Di tengah situasi kritis yang mencekam, penolong bak dewa penyelamat hadir dari warga lokal. Sang penguasa medan mengambil alih kemudi logistik. Demi meringankan beban mobil yang tertahan di bibir jurang, dua relawan kebaikan Ruang Baik merelakan diri menunggangi kuda besi milik warga lokal.
Tanpa mereka sadari, petaka mengerikan telah mengintai di hari kedua ekspedisi suci tersebut. Saat melintasi turunan curam yang menganga bak mulut jurang, bencana dahsyat menghantam tanpa ampun. Sepeda motor tua yang rapuh itu mendadak kehilangan fungsi remnya! Meluncur deras tanpa kendali di atas cadas tajam dan jalanan hancur, kepanikan membeku seketika. Dalam hitungan detik, benturan keras memecah hening—kedua relawan kebaikan terhempas hebat dan terkapar di tanah Pasundan.
Jeritan sirene ambulans meraung-raung, membelah belantara membawa tubuh-tubuh lunglai para relawan kebaikan ke puskesmas terdekat. Namun karena keterbatasan alat medis yang amat memprihatinkan, tim Ruang Baik dari Depok melesat bak kilat memboyong mereka ke Rumah Sakit Bogor. Di sana, kenyataan pahit menghantam: hasil pemindaian merobek keheningan saat salah satu relawan kebaikan divonis mengalami patah tulang kaki hebat hingga harus melakoni operasi pembelahan dan penanaman pen baja, sementara relawan kebaikan lainnya menderita pergeseran tulang yang menahan nyeri luar biasa. Misi suci ini terpaksa DIHENTIKAN seketika dalam duka yang mendalam.
Meski tubuh terkoyak dan ujian melumat raga, hikmah besar berhembus dan semangat di dada menolak mati!
Setelah jeda pertempuran medis, tepat pada Jumat, 16 Agustus, kobaran estafet perjuangan kembali menyala dahsyat! Walau dua relawan kebaikan Ruang Baik harus terbaring di ruang perawatan, nyala api kebaikan tak berhasil dipadamkan. Tim lokal yang dipimpin Ustaz Rusdi langsung menderapkan langkah, menerobos barikade medan demi menemui para santri yang sudah merindukan dahaga ilmu dengan mata berbinar-binar.
Bantuan Al-Qur'an dan program kebaikan akhirnya meledak penuh haru di Ponpes Thoriqul Ulum (Kp. Rawa Getok, Cibaregbeg), Ponpes Al-Hidayah (Kp. Cicepuk), MDTU As-Salam (Kp. Lolongokan), serta jajaran pesantren lainnya yang sempat tertunda!
Penyaluran ini akan terus digempur tanpa henti hingga titik darah penghabisan! Walau dua relawan kebaikan Ruang Baik harus melumpuhkan langkah sejenak akibat tragedi kecelakaan, membara-nya semangat tak akan pernah bisa dihentikan. Bertepatan dengan nafas Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, gejolak jiwa para relawan kebaikan ini kian membakar asa demi membebaskan pelosok Cianjur dari buta huruf Al-Qur'an. Tulang boleh patah, namun estafet kebaikan pantang menyerah! Dirgahayu Republik Indonesia ke-81, Merdeka!
Dokumentasi lainnya :








