16 September 2026 1:16 pm

Lima Anak Yatim, Satu Harapan: Tetap Belajar Meski Hidup Tak Selalu Mudah

Lima Anak Yatim, Satu Harapan: Tetap Belajar Meski Hidup Tak Selalu Mudah
Lima Anak Yatim, Satu Harapan: Tetap Belajar Meski Hidup Tak Selalu Mudah

Lebak, September 2026 — Lima anak yatim duduk dan belajar di Pondok Pesantren Al Furqon, Citorek, Lebak. Mereka datang dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Kehilangan sosok ayah membuat perjalanan hidup mereka tidak selalu sederhana. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipikirkan, ada pengeluaran yang harus diprioritaskan, dan ada keadaan yang terkadang membuat pendidikan terasa seperti sesuatu yang sulit dijangkau. Namun, di tengah keterbatasan itu, kelima santri dan santriwati ini masih memiliki satu hal yang tidak mereka lepaskan: semangat untuk terus belajar dan mengaji.

Mereka beruntung menemukan pintu yang terbuka di Pondok Pesantren Al Furqon. Pesantren tradisional yang berada di tengah hamparan sawah ini tidak mewajibkan seluruh santrinya membayar biaya bulanan. Bagi keluarga yang mampu, mereka dapat memberikan iuran sesuai kemampuan. Sementara bagi anak yatim seperti mereka, biaya mondok dibebaskan. Kesempatan itu menjadi sangat berarti. Mereka tidak perlu memilih antara membantu meringankan beban keluarga dan melanjutkan pendidikan agama. Di pesantren ini, mereka tetap mendapatkan tempat untuk belajar, tinggal, mengaji, dan tumbuh bersama santri lainnya.

1. Seorang anak yang ingin terus mengaji

Bagi seorang anak yatim, kehilangan ayah bukan hanya kehilangan sosok yang dicintai. Ada banyak hal yang kemudian berubah dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ekonomi keluarga bisa menjadi lebih berat, sementara kebutuhan pendidikan tetap berjalan. Di Al Furqon, seorang santri yatim dapat menjalani hari dengan lebih tenang. Tidak ada tuntutan biaya bulanan yang harus menjadi penghalang untuk tetap tinggal di pondok.

Hari-harinya kemudian diisi dengan rutinitas sederhana: belajar, mengaji, mengikuti kegiatan pesantren, dan hidup bersama teman-teman seperjuangan. Tidak banyak yang ia minta. Kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik sudah menjadi nikmat besar yang ia syukuri.

2. Santriwati yang tidak ingin keadaan menghentikan langkah

Di antara mereka ada santriwati yatim yang menjalani pendidikan dalam keadaan keluarga yang serba terbatas. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, sementara kemampuan ekonomi tidak selalu cukup untuk semuanya. Namun, keadaan tersebut tidak membuat semangat belajarnya padam.

Pesantren menjadi ruang baginya untuk tetap mengejar cita-cita. Ia bisa belajar agama, membaca Al-Qur’an, dan menjalani kehidupan sebagai santriwati tanpa harus memikirkan biaya mondok setiap bulan. Kesempatan yang diberikan Al Furqon menjadi pengingat bahwa masih ada orang-orang yang percaya bahwa anak yatim juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

3. Belajar di tengah kesederhanaan

Anak yatim lainnya mungkin tidak tumbuh dengan berbagai fasilitas seperti yang dimiliki sebagian anak di luar sana. Kehidupan pesantren pun berjalan dengan sederhana. Tetapi kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Di pondok, ia belajar bahwa ilmu tidak selalu datang dari tempat yang mewah. Ilmu bisa tumbuh dari ruang belajar yang sederhana, dari lantunan ayat Al-Qur’an yang dibaca bersama, dari nasihat guru, dan dari kebersamaan dengan teman-teman. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, ia ingin terus menjalaninya.

4. Ketika sepiring nasi juga menjadi bagian dari perjuangan

Bagi lima anak yatim ini, kehidupan di pondok juga mengajarkan bahwa kebutuhan paling sederhana pun memiliki arti. Makan setiap hari adalah bagian dari perjuangan mereka menuntut ilmu.

Pesantren harus memastikan dapur tetap berjalan, sementara kemampuan orang tua atau wali santri untuk membayar iuran tidak selalu sama. Ada keluarga yang belum mampu membayar karena masih harus memenuhi kebutuhan lainnya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pondok harus menombok pembelian beras. Bantuan beras dari orang-orang baik menjadi sangat berarti karena kebutuhan makan santri tidak pernah berhenti.

Ketika 200 kilogram beras kemudian disalurkan melalui Gerakan Berbagi Beras Ruang Baik kepada Pondok Pesantren Al Furqon dan Hidayatul Furqon, bantuan tersebut bukan sekadar persediaan makanan. Bagi para santri yatim, beras berarti ada kebutuhan hari ini yang ikut diringankan. Ada sepiring nasi yang dapat mereka nikmati sebelum kembali membuka Al-Qur’an dan belajar.

5. Lima anak yatim, lima perjalanan, satu harapan

Kelima anak ini mungkin memiliki cerita yang berbeda. Tetapi mereka dipertemukan oleh keadaan yang sama: mereka adalah anak-anak yatim yang tetap ingin belajar meski kehidupan keluarga tidak mudah. Mereka tidak memilih kehilangan ayah. Mereka juga tidak memilih lahir dalam keadaan ekonomi yang terbatas. Namun, mereka memilih untuk tetap melangkah.

Di Pondok Pesantren Al Furqon, mereka mendapatkan kesempatan yang mungkin sulit mereka peroleh di tempat lain. Tidak harus membayar biaya mondok bukan berarti perjuangan mereka menjadi mudah. Mereka tetap harus belajar, beradaptasi, menjalani kehidupan pesantren, dan menjaga semangat di tengah segala keterbatasan. Tetapi setidaknya, ada satu beban besar yang tidak perlu mereka pikul: biaya untuk mendapatkan tempat belajar dan tinggal di pondok.

Kini, ketika mereka duduk mengaji dan belajar bersama santri lainnya, ada harapan besar yang sedang tumbuh. Semoga suatu hari nanti, ilmu yang mereka dapatkan menjadi bekal untuk mengubah kehidupan mereka dan keluarganya. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya mampu berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak yatim yang hari ini menerima kebaikan itu akan menjadi orang-orang yang kembali berbagi kepada sesama.

Karena bagi mereka, sebuah kesempatan untuk belajar bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia adalah pintu menuju masa depan.

Melalui Gerakan Berbagi Beras, kita dapat ikut menjaga perjalanan mereka. Tidak harus selalu dalam jumlah besar. Sebab ketika beras tersedia, dapur pesantren tetap mengepul. Ketika dapur tetap mengepul, santri dapat makan. Dan setelah makan, mereka kembali belajar, mengaji, dan menghafalkan ayat-ayat Allah.

Mari hadir untuk kebutuhan sederhana yang begitu berarti bagi mereka.

Mari berbagi beras untuk santri yatim.
Agar tidak ada anak yang harus berhenti belajar hanya karena keadaan.
Agar sepiring nasi hari ini menjadi tenaga untuk mengejar cita-cita esok hari.

Baik Bareng Ruang Baik.
Menguatkan Kebaikan.

Dokumentasi lainnya :

-

-

-

Blog Post Lainnya
-
Kontak Kami
info@ruangbaik.com
Perumahan Arco, Jl. Rambutan No 16 Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari Kota Depok, Jawa Barat 16518
0851-1124-6776
0851-1122-6776
0813-8407-0649
Ikuti Kami di
-
@2026 Yayasan Ruang Baik Bersama Inc.