
Di sebuah rumah sederhana yang kini menjadi tempat belajar para santri yatim, berdiri Panti Asuhan Yatim Ar Razzaq di Bojong Gede, Bogor. Bangunannya tidak besar, bahkan awalnya hanyalah rumah perumahan biasa. Di bagian depannya berdiri saung dan gubug sederhana—tempat anak-anak mengaji, belajar, tidur, dan membangun harapan hidup mereka.
Di tempat sederhana inilah sekitar 40 santri tinggal dan menuntut ilmu bersama pimpinan pondok, KH Ar Rifa’i, S.Pd.
Namun setiap anak yang datang membawa cerita hidup yang berbeda—dan sebagian kisahnya begitu menggetarkan hati.
Ada anak yang datang sendirian tanpa keluarga.
Ada yang diantar oleh travel dari Cirebon, jauh dari rumahnya.
Bahkan ada yang datang dengan bibir pecah dan tangan penuh luka akibat amukan orang tuanya sendiri.
Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yatim dan dhuafa yang mencari tempat aman untuk belajar agama dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Memasuki 17 Ramadhan, di pertengahan bulan yang penuh keberkahan ini, Ruang Baik bersama IKSANI (Ikatan Keluarga Santri Alumni Nurul Ilmi) datang bersilaturahmi dan menyalurkan program santunan yatim di pondok tersebut.
Kegiatan diawali dengan berbagi takjil, kemudian para santri mendengarkan tausiyah dari KH Ar Rifa’i, sebelum akhirnya menerima santunan dan berbuka puasa bersama.
Sore itu, kebahagiaan sederhana terlihat jelas dari wajah anak-anak yang mungkin jarang merasakan perhatian seperti ini. Namun di balik kebahagiaan itu, tersimpan sebuah kisah tentang keyakinan dan pertolongan Allah.
Beberapa hari sebelum Ramadhan, sekitar tiga hari menjelang bulan suci, seseorang datang ke pondok meminta beras untuk sahur. Saat itu stok beras pondok hanya tersisa sekitar 16 liter—jumlah yang sebenarnya hanya cukup untuk kebutuhan makan para santri.
Tapi Kiai Arrifai tetap memberi. Beliau mengambil 6 liter beras dari stok yang ada dan menyerahkannya kepada orang yang meminta bantuan. “Kalau kita menolong orang, insyaAllah Allah juga akan menolong kita,” ujar beliau dengan keyakinan sederhana. Dan benar saja. Tidak lama setelah itu, Allah mempertemukan pondok dengan para sahabat kebaikan dari Ruang Baik dan IKSANI yang datang membawa bantuan beras 75 kilogram untuk para santri.
Seolah menjadi jawaban atas keikhlasan yang telah diberikan sebelumnya. Kisah serupa juga terjadi beberapa hari sebelumnya. Seorang guru dari Tajur Halang datang meminta Al-Qur’an untuk empat santri mualaf yang sedang belajar mengaji. Saat itu sebenarnya pondok tidak memiliki mushaf cadangan. Yang ada hanyalah Al-Qur’an milik para santri yang sedang mereka gunakan belajar. Namun dengan penuh keikhlasan, Kiai Arrifai tetap memberikan empat mushaf Al-Qur’an tersebut. Dan lagi-lagi Allah menunjukkan cara-Nya yang indah.
Pada Sabtu, 7 Maret 2026, ketika sahabat dari Ruang Baik dan IKSANI datang bersilaturahmi, mereka juga membawa 40 mushaf Al-Qur’an untuk Pondok Pesantren Ar Razzaq. MasyaAllah… Apa yang terlihat seperti kebetulan, ternyata adalah cara Allah menjawab keyakinan hamba-Nya. Ramadhan memang selalu menghadirkan kisah-kisah seperti ini—kisah tentang keikhlasan, tentang berbagi di tengah keterbatasan, dan tentang bagaimana Allah menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Melalui Program Yatim Ruang Baik, semakin banyak anak-anak seperti mereka yang bisa merasakan perhatian, dukungan pendidikan, serta kehidupan yang lebih layak. Karena bagi sebagian anak, sedikit perhatian dari kita bisa menjadi harapan besar bagi masa depan mereka.
Mari menjadi bagian dari kebaikan ini. Dukung Program Yatim Ruang Baik, agar lebih banyak lagi anak yatim yang bisa tersenyum, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik. Karena bisa jadi, dari tangan kita yang memberi hari ini, Allah sedang menyiapkan pertolongan yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.
Dokumentasi lainnya :
pembagian Mushaf Al Quran
pembagian beras
mendengarkan tausiyah







