
Memasuki hari kedua Ekspedisi Kemerdekaan Al-Qur'an, langkah Tim Ruang Baik semakin jauh menembus berbagai wilayah di Provinsi Lampung. Sejak pagi hingga menjelang malam, perjalanan panjang dilakukan untuk memastikan amanah para donatur benar-benar sampai kepada para pejuang Al-Qur'an yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. Di balik setiap titik penyaluran, tersimpan kisah perjuangan guru ngaji, para lansia, santri, hingga anak-anak pelosok yang masih merindukan hadirnya mushaf Al-Qur'an dan buku Iqra sebagai sarana belajar.
Agenda pertama diawali dengan silaturahmi ke Komunitas Dakwah Lampung dan Quranic Learning Center (QLC). Kedua lembaga ini memiliki jaringan pembinaan yang luar biasa, yakni 2.653 kelompok belajar lansia yang tersebar di berbagai kelurahan di seluruh Provinsi Lampung. Setiap pekan, ribuan orang tua berkumpul untuk kembali belajar mengenal huruf-huruf hijaiyah, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, dan menuntaskan impian mereka agar dapat membaca Kalamullah dengan baik di usia senja.
Banyak di antara mereka yang baru memiliki kesempatan belajar mengaji setelah anak-anaknya dewasa. Ada yang datang dengan penglihatan mulai kabur, pendengaran yang berkurang, hingga tangan yang tak lagi sekuat dahulu. Namun semangat mereka untuk belajar tidak pernah surut. Sayangnya, keterbatasan mushaf dan buku Iqra masih menjadi tantangan yang harus dihadapi di banyak kelompok belajar.
Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan tersebut, Tim Ruang Baik menyerahkan 1.000 mushaf Al-Qur'an dan 600 buku Iqra untuk segera didistribusikan kepada para tutor dan kelompok binaan lansia di seluruh Lampung. Bantuan ini diharapkan menjadi penyemangat agar semakin banyak lansia yang mampu membaca Al-Qur'an dengan baik hingga akhir hayatnya.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Dewan Dakwah Provinsi Lampung. Selama bertahun-tahun, para dai dan guru ngaji binaan Dewan Dakwah telah menjadi garda terdepan dalam menyebarkan cahaya Al-Qur'an ke desa-desa terpencil. Mereka rela menempuh perjalanan jauh, melewati jalan yang sulit, bahkan mengajar tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata agar anak-anak dan masyarakat tetap memiliki kesempatan belajar agama.
Dalam kesempatan tersebut, Tim Ruang Baik menyerahkan 500 mushaf Al-Qur'an untuk didistribusikan kepada para guru ngaji yang bertugas di berbagai pelosok Lampung. Setiap mushaf diharapkan menjadi bekal perjuangan mereka dalam mencetak generasi yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur'an.
Perjalanan berikutnya membawa tim bertemu dengan komunitas pemuda Lampung Cerdas. Dari diskusi tersebut terungkap bahwa wilayah Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat masih menjadi daerah dengan kebutuhan Al-Qur'an dan buku Iqra yang sangat tinggi. Tidak sedikit anak-anak yang harus belajar secara bergantian menggunakan mushaf yang sudah usang karena belum memiliki Al-Qur'an sendiri.
Mendengar kondisi tersebut, Tim Ruang Baik langsung menyerahkan 500 mushaf Al-Qur'an dan 120 buku Iqra agar segera disalurkan kepada anak-anak di wilayah tersebut. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang dapat belajar membaca Al-Qur'an dengan lebih baik tanpa harus terkendala keterbatasan sarana.
Perjalanan hari kedua kemudian dilanjutkan menuju Pondok Tahfidz Surau BMC di Bandar Lampung. Selain membina para santri penghafal Al-Qur'an, Surau BMC juga aktif mendampingi para pedagang pasar dan mengelola 30 Rumah Al-Qur'an yang tersebar di berbagai wilayah sekitar Bandar Lampung. Aktivitas dakwah yang luas ini membutuhkan dukungan yang tidak sedikit agar pembinaan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Di lokasi ini, Tim Ruang Baik menyalurkan 500 mushaf Al-Qur'an, 120 buku Iqra, serta 100 kilogram beras sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan Al-Qur'an dan kebutuhan para santri serta masyarakat binaan. Semoga bantuan ini menjadi penyemangat bagi para pengajar dan para penghafal Al-Qur'an untuk terus menebarkan manfaat.
Menjelang sore, perjalanan berlanjut menuju Lampung Selatan untuk meninjau pembangunan Sumur Bor ke-93 yang sedang dikerjakan. Sumur dengan kedalaman lebih dari 40 meter ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masjid dan masyarakat sekitar yang selama bertahun-tahun mengalami kesulitan air, terutama saat musim kemarau.
Masjid tersebut merupakan satu-satunya pusat aktivitas ibadah masyarakat di wilayah itu. Selama ini, jamaah hanya mengandalkan sumur galian yang debit airnya terus menurun ketika kemarau datang. Bahkan untuk berwudu, mereka kerap membeli air mineral atau mengambil air dari daerah lain. Kondisi ini tentu menjadi ujian tersendiri bagi keberlangsungan aktivitas ibadah dan pendidikan Al-Qur'an di lingkungan masjid.
Insya Allah, setelah pembangunan selesai, 270 kepala keluarga akan merasakan manfaat dari Sumur Bor ke-93 ini. Air bersih akan menghidupkan kembali aktivitas masjid, memudahkan jamaah beribadah, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menjadi sumber keberkahan yang terus mengalir bagi seluruh warga.
Hari kedua Ekspedisi Kemerdekaan Al-Qur'an kembali membuktikan bahwa perjuangan menghadirkan cahaya Al-Qur'an belum selesai. Masih banyak guru ngaji yang mengajar tanpa fasilitas memadai, anak-anak yang menunggu mushaf pertamanya, para lansia yang ingin menutup usia dalam keadaan mampu membaca Kalamullah, hingga masyarakat yang berharap memperoleh akses air bersih untuk beribadah dengan layak. Setiap mushaf yang disalurkan, setiap buku Iqra yang dibagikan, dan setiap tetes air yang mengalir adalah bukti nyata bahwa kebaikan para donatur terus menghadirkan kehidupan, menguatkan dakwah, dan menjadi amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir hingga akhir zaman.







