
Di sebuah gang sederhana di wilayah Mawar, Bojongsari, setiap sore terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menghangatkan suasana. Dari rumah yang tak begitu luas, TPQ Nurul Ilmi menjadi tempat lahirnya generasi pecinta Al-Qur'an. Di balik semua itu, ada sosok tangguh bernama Ustadzah Mia. Seorang ibu dari tiga anak yang memilih tetap menyalakan cahaya Al-Qur'an, meski hidupnya sendiri sedang diuji dengan kehilangan sosok kepala keluarga. Sejak sang suami dipanggil Allah pada pertengahan tahun 2025, beliau harus memikul dua peran sekaligus: menjadi ibu yang penuh kasih sekaligus ayah yang mencari nafkah.
Setiap sore, sebanyak 36 santri mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA memenuhi rumah sederhana tersebut. Bersama Ustadzah Alya, beliau membagi para santri ke dalam beberapa kelompok agar setiap anak mendapatkan perhatian yang maksimal. Tidak sekadar mengajarkan huruf demi huruf, Ustadzah Mia membangun sistem pembelajaran yang begitu rapi. Setiap santri memiliki raport perkembangan yang mencatat kemampuan membaca, hafalan, hingga capaian belajarnya. Bagi beliau, setiap anak berhak memiliki rekam jejak perjuangan. Ketika suatu hari mereka sempat berhenti belajar lalu kembali lagi, perjalanan mereka tidak pernah dimulai dari nol.
Yang membuat perjuangan ini semakin menggetarkan hati adalah kenyataan bahwa ilmu yang beliau berikan nyaris tak pernah dihitung dengan rupiah. Santri tidak diwajibkan membayar biaya tertentu. Semua berjalan dengan semangat subsidi silang; siapa yang mampu membantu yang belum mampu. Bahkan khusus anak-anak yatim, seluruh biaya digratiskan. Baginya, jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan belajar Al-Qur'an hanya karena keadaan ekonomi keluarganya. Prinsip itulah yang terus beliau jaga, meski dapur di rumahnya sendiri sering kali harus diperjuangkan setiap harinya.
"Melihat anak-anak bisa mengenal huruf-huruf Al-Qur'an, bisa membaca dengan baik, itu yang membuat saya bahagia. Dari sana saya mendapat energi untuk terus menjalani hidup. Semoga semua ini menjadi jalan mencari ridha Allah," tutur Ustadzah Mia dengan mata yang berbinar.
Enam kilometer dari Bojongsari, semangat yang sama juga menyala di wilayah kampung Jati Parung. Di sana ada Ustadz Hairul, seorang guru ngaji yang memilih mengabdikan hidupnya di jalan dakwah sebagai bentuk kepatuhan kepada amanah sang guru. Baginya, mengajarkan Al-Qur'an bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan perjuangan yang harus terus dijaga hingga akhir hayat. Setiap sore hingga malam, beliau bersama istrinya, Ustadzah Neneng, mendidik puluhan santri dengan penuh kesabaran, memastikan tidak ada satu pun bacaan yang luput dari perhatian.
Namun ketika matahari belum tinggi, kehidupan mereka berubah menjadi kisah perjuangan yang berbeda. Demi menghidupi keluarga dan menjaga roda dakwah tetap berputar, Ustadz Hairul bersama istri menjajakan kue gemblong khas Betawi di kawasan Parung dan Duren Mekar. Dari hasil berjualan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, sementara sore harinya tenaga dan waktunya kembali dipersembahkan untuk mendidik generasi Qur'ani. Tidak ada kata lelah yang terlihat di wajahnya. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap langkah mencari nafkah dan setiap huruf Al-Qur'an yang diajarkan akan menjadi amal yang tak pernah terputus.
Mereka mungkin bukan orang-orang yang namanya terpampang di layar televisi atau memenuhi panggung-panggung besar. Namun di rumah-rumah sederhana, di gang-gang kecil, dan di sudut-sudut kampung, mereka adalah penjaga cahaya yang sesungguhnya. Mereka memastikan Al-Qur'an tetap hidup di hati anak-anak, meski harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan hidupnya sendiri. Sebab mereka percaya, cahaya Al-Qur'an harus terus berkobar, meski nyala dapur terus diperjuangkan.
Ustadzah Mia dan Ustadz Hairul hanyalah dua dari sekian banyak guru ngaji yang setiap hari berjuang menjaga cahaya Al-Qur'an tetap menyala di tengah keterbatasan hidup. Di berbagai pelosok negeri, masih banyak guru ngaji yang mengajar dengan penuh keikhlasan, tanpa kepastian penghasilan, bahkan harus bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Melalui program pemberdayaan guru ngaji, mari kita hadir menjadi bagian dari perjuangan mereka. Dukungan yang Anda berikan bukan sekadar membantu menghidupkan dapur mereka, tetapi juga menjaga ribuan anak agar terus belajar, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur'an. Karena ketika kita menguatkan seorang guru ngaji, sesungguhnya kita sedang menjaga agar cahaya Al-Qur'an terus berkobar dari generasi ke generasi





